Translate

Showing posts with label Wacana Religi. Show all posts
Showing posts with label Wacana Religi. Show all posts

Friday, May 5, 2017

Kenapa 1 ayat ?


Kenapa 1 ayat ?
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)
Seputar perawi hadits :
Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al Ash bin Wa’il bin Hasyim bin Su’aid bin Sa’ad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al ‘Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti ‘Abdullah Ibn Umar, ‘Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya –pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha’ dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Tha’if.
Poin kandungan hadits :
Pertama:
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), “Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu” (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”, Al Ma’afi An Nahrawani mengatakan, “Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya.” Hal ini sebagaimana sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir”. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah.
Kedua:
Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :
  1. Menyampaikan dalil dari Al Qur’an atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap ‘adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muru’ah, ed).
  2. Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada. Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmu-ilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka, hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang ‘nyleneh’.
Ketiga:
Sebagian orang yang mengaku sebagai da’i, pemberi wejangan, dan pengisi ta’lim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat”. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah.
Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam“Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman)”. Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham, ed)?! Semoga Allah melindungi kita dari kerusakan semacam ini.
Diterjemahkan dari : “Ta’liqat ‘ala Arba’ina Haditsan fi Manhajis Salaf” Syaikh Ali bin Yahya Al Haddadi  (http://haddady.com/ra_page_views.php?id=299&page=24&main=7)
Penerjemah: Yhouga Ariesta
Editor: M. A.  Tuasikal


Sumber: https://muslim.or.id/6409-sampaikan-ilmu-dariku-walau-satu-ayat.html

Friday, November 27, 2015




ADAB BERTEMAN



Beberapa hadis mengenai adab berteman yang diambil dari kitab Adabul Mufrad.
  1. Mendoakan Temannya agar Allah Memperbanyak Harta dan Anaknya
Musa bin Ismail menceritakan pada kami: sulaiman bin Al-Mughirah menceritakan pada kami: Dari Tsabit: Dari Anas, dia berkata. "Pada suatu hari aku mengunjungi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Tidak ada (disaat itu) kecuali aku, ibu, dan Ummu Haram bibi (dari ibu). Ketika Rasulullah menemui kami, maka beliau berkata, 'Apakah tidak sebaiknya kita shalat dan aku menjadi imam?' Saat itu belum masuk waktu shalat. Lalu seseorang dari kaum itu berkata, 'Dimana Anas radhiallahu 'anhu ditempatkan oleh Rasulullah?' Lalu dijawab, 'Anas diposisikan di sebelah kanannya.' Kemudian Rasulullah shalat dengan kami lalu mendoakan kami -seisi rumah- dengan segala kebaikan dari kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Kemudian ibuku berkata, 'Wahai Rasulullah! Pelayan kecilmu (Anas) berdoalah kepada Allah untuknya.’ Lalu Rasulullah melakukannya dengan segala kebaikan, lalu Rasulullah SAW mengakhiri doanya, “Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya serta berkahilah ia.”

  1. Sebaik-baiknya Teman dan Tetangga
Abdullah bin Yazid menceritakan pada kami: Haiwah menceritakan pada kami, Syurahbil bin Syarik menceritakan pada kami: bahwa dia mendengar Abu Abdurrahman Al-Hubali menceritakan padanya: Dari Abdullah bin Amru bin Ash, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, " Sebaik-baiknya teman menurut Allah adalah yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga menurut Allah adalah yang paling baik kepada tetangganya."

  1. Teman yang selalu memberi nasehat
Amru bin Abbas menceritakan pada kami: Abdurrahman menceritakan pada kami, Sufyan menceritakan pada kami, dari Abu Ishaq, Aku mendengar Abdurrahman ibnu Abza, dia berkata, "Daud berkata, 'Jadilah kamu bagi anak yatim seperti seorang bapak yang penyayang. Ketahuilah! sebagaimana engkau menanam, maka engkau akan menuai. Alangkah buruknya kefakiran setelah kaya!. Lebih dari itu atau lebih buruk lagi yaitu kesesatan setelah (mendapat) petunjuk. Apabila engkau berjanji terhadap temanmu, maka penuhilah janjimu. Sekiranya engkau tidak melakukannya, maka akan mengakibatkan permusuhan antara kamu dan dia. Berlindunglah kepada Allah dari teman, jika engkau mengingat (Allah), dia tidak membantumu dan jika engkau lupa (kepada Allah), maka dia tidak mengingatkanmu.”

  1. Tidak mengambil kepunyaan teman, meskipun hanya bercanda
Ashim bin Ali menceritakan pada kami: Ibnu Abu Di'b menceritakan pada kami: dari Abdullah bin Sa'ib, dari bapaknya, dari kakeknya, (Yazid bin Said) berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda, 'Janganlah salah seorang di antara kamu mengambil harta temannya dengan main-main atau dengan sungguh-sungguh. Apabila salah seorang di antara kamu mengambil tongkat temannya, maka hendaknya dia mengembalikan tongkat tersebut kepadanya."

  1. Memuji Teman
Abdul Aziz bin Abdullah menceritakan pada kami: Abdul Aziz bin Abu Hazim menceritakan padaku: dari Suhail, dari Bapaknya, Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sebaik-baik seseorang adalah Abu Bakar, sebaik-baik seseorang adalah Umar, sebaik-baik seseorang adalah Abu Ubaidah, sebaik-baik seseorang adalah Usaid ibnu Hudhair, sebaik-baik seseorang adalah Tsabit ibnu Qais ibnu Syammas, sebaik-baik seseorang Muadz ibnu Amru ibnu Al Jamuh, dan sebaik-baik seseorang adalah Muadz ibnu Jabal." Nabi bersabda, "Sejelek-jelek seseorang adalah fulan dan sejelek-jelek seseorang adalah fulan" Sehingga beliau menghitung tujuh (orang).

  1. Jangan terlalu memuji dan memuliakan teman, sehingga memberatkan bebannya
Muhammad bin Al-Mutsana menceritakan pada kami: Muadz menceritakan pada kami: Ibnu Aun menceritakan pada kami, dari Muhammad berkata, "Mereka (para sahabat) berkata, “Janganlah engkau memuliakan temanmu dengan sesuatu yang memberatkannya.”

Abu Nuaim menceritakan pada kami: Al-Amasy menceritakan padaku: dari Abu Ishaw, dari Abul Ahwas, Dari Abdullah [maksudnya adalah Ibnu Mas'ud] berkata, "Jika salah seorang dari kalian berdoa maka hendaknya dia memohon sesuatu yang mudah, karena seseorang itu pasti akan mendapatkan apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dan janganlah salah seorang di antara kalian datang kepada temannya kemudian memujinya, maka pujian itu mencelakakannya."

  1. Jangan mencaci teman
syihab bin Abad menceritakan pada kami: Ibrahim bin Humaid Ar-Ruwasi menceritakan pada kami: dari Ismail: dari Qais: Abdullah Ibnu Mas'ud berkata, "Apabila seseorang berkata kepada temannya, 'Kamu musuhku', maka (dia) dari salah satunya sungguh telah keluar dari Islam, dan ia terbebas dari temannya (tidak menjadi tanggung jawab temannya)."

  1. Menuduh temannya kafir atau dengan sesuatu yang buruk
Abu Ma'mar menceritakan pada kami: Abdul Warits menceritakan pada kami: dari Al-Husain, dari Abdullah bin Buraidah, Yahya bin Ya'mur menceritakan pada kami: bahwa Abu Aswad Ad-Diyila bercerita padanya, bahwa Ia mendengar Abu Dzarr berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Seseorang diharamkan untuk menuduh fasik orang lain, dan juga tidak menuduhnya dengan kufur, maka jika tidak, tuduhan itu kembali kepada dirinya, sekiranya temannya yang dituduh itu tidak seperti yang dituduhkannya'."

  1. Saling mencintai karena Allah
Musa menceritakan pada kami: Mubarak menceritakan pada kami: Tsabit menceritakan pada kami: dari Anas, ia berkata, "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,  'Dua orang saling mencintai (karena Allah) maka yang paling baik di antara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya.

  1. Tidak boleh mendiamkan teman
Abdullah bin Yusuf dan Al-Qa'nani menceritakan pada kami: Malik mengabarkan pada kami, dari Ibnu Syihab, dari Atha bin Yazid, Dari Abu Ayyub, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal bagi orang muslim untuk mendiamkan temannya dalam tiga hari, kemudian keduanya bertemu lalu dia berpaling dan ini, dan yang lain berpaling dari itu. Hal yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai dengan salam."

  1. Meminta izin pada teman
Musa bin Ismail menceritakan pada kami:  A'yana Al khawarizmi menceritakan pada kami, ia berkata, "Kami datang menemui Anas bin Malik, sementara din duduk di lorong sempit dan tidak seseorangpun yang menemaninya, maka temanku memberi salam kepadanya dan berkata, 'Boleh aku masuk?' Maka Anas menjawab, 'Silakan masuk, tidak perlu meminta izin. ' Beliau menghidangkan makanan. lalu kami makan. Kemudian dihidangkan lagi bejana anggur manis, lalu kami meminumnya."

  1. Teman duduk
Abu Ashim menceritakan pada kami: Sya'ib bin Umar menceritakan pada kami: Isa bin Musa menceritakan padaku: dari Muhammad bin Abbad bin Ja'far ia berkata. Ibnu Abbas berkata: Orang yang sangat mulia pada sisiku adalah teman dudukku."




SB 2000

Saturday, November 14, 2015

Petuah Bijak Imam Ghazali Tentang Rezeki



Yang pertama kali harus kita lakukan terkait rezeki adalah meyakini keterjaminannya. Selama masih hidup, pasti ada jatahnya. Sebagai konsekuensi positif terkait pasal pertama ini, maka kerja menjadi hal lain. Hanya sarana menyambut. Hanya melakukan perintah Allah Ta’ala. Sama sekali bukan satu-satunya sebab diantarkannya rezeki kepada kita.
Bukankah saat masih di kandungan ibu, usia di bawah lima tahun, hingga masa remaja, kita juga tidak mampu bekerja? Akan tetapi, Allah Ta’ala tak pernah membuat kita kelaparan selama itu.
Selanjutnya, bagi mereka yang usianya lanjut dan tak bisa bekerja, sakit menahun hingga tak kuasa mengunyah berbagai jenis makanan, Allah Ta’ala tetap memberikan rezeki kepadanya dengan banyak cara.
Fakta lainnya, ada begitu banyak orang yang terlihat bekerja, tapi rezekinya itu-itu saja. Dibilang gak ada, tapi masih mendapatkan rezeki. Dikatakan mendapat rezeki, tapi jumlahnya tak banyak bahkan terlihat semakin berkurang hingga minus.
Karenanya, pahamilah bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban seorang hamba. Jika kita memilih santai di rumah tanpa mengupayakan apa pun dan tak memiliki alasan yang syar’i, maka kita berhak atas dosa sebab Allah Ta’ala perintahkan kepada kita untuk menyambut karunia-Nya dengan bertebaran di muka bumi.
Dalam banyak ayat al-Qur’an juga disebutkan, Allah Ta’ala menjadikan bagi kita siang hari untuk mencari penghidupan. Maka, bergegaslah di pagi hari dengan semangat mengabdi kepada Allah Ta’ala untuk bekerja. Niatkan untuk memakmurkan keluarga, dan menjadi sosok yang kuat dalam memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala di muka bumi ini.
Jangan bermalas-malasan. Dan tidak perlu ragu. Sebab, ketika kita mulai bekerja, akan banyak keajaiban yang Allah Ta’ala berikan.
Tak perlu juga bingung mau bekerja apa. Lalu banyak beralasan, “Jika hanya melakukan ini, berapa keuntungannya?”
“Ah, ini mah cuma usaha kacangan. Gak ada duitnya. Gak bakalan kaya. Gak mungkin sukses.” Atau, kalimat-kalimat sesat lainnya.
Simaklah dengan cermat nasihat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali berikut ini, “Bisa jadi, kalian tidak tahu di mana rezekimu. Tetapi, rezeki mengetahui di mana posisimu. Jika rezeki ada di langit, maka Allah Ta’ala akan memerintahkannya supaya turun kepadamu. Andai rezekimu ada di bumi, Allah Ta’ala akan menyuruhnya agar muncul menemuimu. Dan jika rezekimu ada di lautan, Allah Ta’ala akan perintahkan padanya supaya timbul bersua denganmu.”
Pahami dengan benar. Lakukan apa yang diwajibkan kepada kita. Ikuti dengan sunnah yang utama. Selanjutnya, rasakan sensasi ‘dikejar-kejar’ rezeki. Bismillah… [Pirman/Kisahikmah]

Source : http://www.salingshare.com/2015/10/petuah-bijak-imam-ghazali-tentang-rezeki.html

Wednesday, August 26, 2015

Disembelih atau di stunning ?



ORANG BARAT TERKEJUT DENGAN CARA ISLAM MENYEMBELIH SAPI



Masya Allah, semakin Maju Penelitian Ilmiyah Semakin Membuktikan Kebenaran Islam.
Jelang Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban, jangan pernah makan daging sapi tanpa disembelih, ternyata syariat Islam ini membuat orang barat terkejut.

Simak penelitian ini.

1. Rasulullah tak pernah belajar cardiology tapi syari'atnya membuktikan penelitian ilmu modern.

2. Melalui penelitian ilmiah yang dilakukan oleh dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman. Yaitu: Prof.Dr. Schultz dan koleganya, Dr. Hazim. Keduanya memimpin satu tim penelitian terstruktur untuk menjawab pertanyaan: manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syari’at Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?

3. Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih. Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih.

EEG

ECG


4. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu. Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

5. Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni: saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu: arteri karotis dan vena jugularis.

6. Patut pula diketahui, syariat Islam tidak merekomendasikan metoda atau teknik pemingsanan. Sebaliknya, Metode Barat justru mengajarkan atau bahkan mengharuskan agar ternak dipingsankan terlebih dahulu sebelum disembelih.

7. Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati. Nah, hasil penelitian inilah yang sangat ditunggu-tunggu!

8. Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof. Schultz dan Dr. Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh beberapa hal sbb.:

Penyembelihan Menurut Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktek penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Pertama
Pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua
Pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga
Setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali!).

Keempat
Karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan Cara Barat

Pertama
Segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan collaps (roboh). Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan (tampaknya) tanpa (mengalami) rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua
Segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Ketiga
Grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat
Karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia. Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Bukan Ekspresi Rasa Sakit!

Meronta-ronta dan meregangkan otot pada saat ternak disembelih ternyata bukanlah ekspresi rasa sakit! Sangat jauh berbeda dengan dugaan kita sebelumnya! Bahkan mungkin sudah lazim menjadi keyakinan kita bersama, bahwa setiap darah yang keluar dari anggota tubuh yang terluka, pastilah disertai rasa sakit dan nyeri. Terlebih lagi yang terluka adalah leher dengan luka terbuka yang menganga lebar…!

Hasil penelitian Prof. Schultz dan Dr. Hazim justru membuktikan yang sebaliknya. Yakni bahwa pisau tajam yang mengiris leher (sebagai syariat Islam dalam penyembelihan ternak) ternyata tidaklah ‘menyentuh’ saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi ‘keterkejutan otot dan saraf’ saja (yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras). Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Semoga bermanfaat 

Sumber :
https://www.facebook.com/1464743513754252/photos/a.1464756340419636.1073741828.1464743513754252/1710629475832320/?type=1&fref=nf

Monday, May 4, 2015

syiah houthi

Pastinya sudah tau pemberontakan syiah houthi dunk yang sering muncul di tipi2 national.....dah tau belum apa Dan siapa syiah houthi ?n katanya pbb kaum syiah houthi ini sudah mengalami diskriminasi di yaman,bener gak ? cekidot deh......

Dari Zaidiyah ke Rafidhah

Ibnu Ali Zaidi, seorang penganut Syiah Zaidiyah  yang memimpin pemberontakan pada abad kedelapan melawan Khalifah Muslim Umayyah .   Syiah Zaidiyah  (Haashimites) menguasai sebagian besar bagian utara Yaman selama lebih dari 1.000 tahun. Namun pada tahun 1962, kaum republik menjatuhkan kekuasaan Imam  Zaidi , Mohammad al-Badr, dalam sebuah perang saudara di utara Yaman.   Sementara semua suku Houthi adalah penganut Syiah Zaydis, tapi tidak semua Syiah Zaydiyah adalah suku Houthi.   Syiah Zaidiyah merupakan sebuah komunitas yang pernah memerintah Yaman selama seribu tahun silam sekitar akhir abad ke-7 hingga awal abad ke-8 (284 H). Kekuasaan itu diperoleh seteleh berhasil menang melawan khilafah Turki Utsmani pada tahun 1915.   Kalangan Syiah Zaidiyah juga populer dengan sebutan Zaidis, yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin husein bin Ali Abi Thalib sekaligus pelopor berdirinya manhaj ini. Kalangan Sunni kerap juga menyebut mereka dengan fivers (imam ke-5).   Dalam kesehariannya, pengikut Zaidiyah asli berinteraksi dengan Al-Quran dan sunnah layaknya kaum muslimin ahlu sunnah lainnya, kendatipun mereka memiliki sekumpulan pendapat berbeda terkait imamah.   Zaidiyah membatasi imamah pada keturunan Ali bin Abi Thalib, dan tidak menentukan secara eksplisit orang tertentu dari keturunan tersebut. Sehingga mereka mengatakan, seseorang yang memenuhi kriteria, seperti keturunan Fatimah, berilmu, bertakwa, dan memiliki pandangan yang baik mesti mencalonkan dirinya sendiri. Apabila dia terpilih maka imamahnya sah.   Berbeda dengan Zaidiyah, Syiah 12 tidak mengakui Zaid bin Ali sebagai imam. Sebaliknya, kalangan Zaidiyah tidak sepakat dengan Syiah 12 bahwa para imam yang dua belas itu ma’sum (terbebas) dari kesalahan, baik dalam akidah taqiyah (berpura-pura), raj`ah (kembalinya Imam Mahdi versi Syiah), badâk (Allah tak tahu masa depan).   Syiah Zaidiyah tidak menghina sahabat seperti Syiah 12 yang menghina para sahabat Rasululllah. Zaidiyah juga tidak meyakini bid’ah-bid’ah dan kurafat yang diyakini Syiah 12. Selain itu, para Syiah Zaidiyah secara totalitas tidak percaya kebenaran mutlak para imam. Mereka tidak sepenuhnya yakin bahwa para imam mendapatkan bimbingan langsung dari Tuhan.    Syiah Zaidiyah juga tidak setuju bahwa imâmah harus diberikan secara turun temurun, kecuali apa yang telah dilakukan Imam Ali kepada kedua anaknya, Hasan dan Husein. Meskipun Badruddin al-Hutsri sudah hijrah ke Tehran, namun pengaruh pemikiran Syiah Itsna Asyariyahnya tetap hidup di Yaman, khususnya di wilayah Sa’dah.   Bagaimana tidak, dia adalah seorang tokoh yang mendirikan pusat pengajian Zaidiyah yang berjasa dan mengembangkan mazhab tersebut di Yaman.

Munculnya Houthi

Kisah munculnya Syiah Houthi bermula dari sebuah desa atau kota kecil yang bernama Sha’dah. Sebuah kota yang terletak 240 Km di utara ibu kota Shan’a. Di sana terdapat perkumpulan terbesar orang-orang Syiah Zaidiyah di Yaman. Pada tahun 1986, dibentuklah di sana sebuah perkumpulan untuk mempelajari ajaran-ajaran Syiah Zaidiyah. Perkumpulan itu disebut dengan Ittihad asy-Syabab (Persatuan Pemuda). Untuk memperlancar proses pembelajaran di sana, salah seorang ulama Zaidiyah yang bernama Badrudin al-Houthi mendatangkan para pengajar dari berbagai daerah untuk menetap di wilayah Sha’dah.
Pada tahun 1990, Yaman Utara dan Yaman Selatan pun bersatu membentuk negara demokrasi baru yang bernama Republik Yaman. Sistem demokrasi menuntut adanya partai politik dan parlemen. Saat itulah Ittihad asy-Syabab menjelma menjadi partai politik dengan nama baru Partai al-Haq (Hizbul Haq) sebagai penyambung aspirasi Syiah Zaidiyah di Republik Yaman. Dari partai itu juga muncul seorang kadernya yang bernama Husein bin Badruddin al-Houthi, anak dari Badrudin al-Houthi. Ia menjadi seorang politisi yang terkenal dan menjadi anggota parlemen (DPR) Yaman pada 1993-1997 dan 1997-2001.
Badruddin al-Houthi
Badruddin al-Houthi, penyebar ajaran Syiah Itsna Asyariyah di Yaman

Seiring perkembangan pemikiran Syiah Zaidiyah di negeri Yaman, muncullah keretakan hubungan antara Badruddin al-Houthi dengan ulama-ulama Zaidiyah lainnya. Hal itu ditengarai fatwa ulama-ulama Zaidiyah yang menyelisihi pakem ajaran Syiah selama ini. Mereka membolehkan para pengikut Syiah Zaidiyah untuk memilih seorang pemimpin atau tokoh agama walaupun bukan dari keturunan Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalibradhiallahu ‘anhum. Badruddin yang merupakan seorang penganut sekte Jarudiyah (salah satu sekte Zaidiyah yang dekat dengan Syiah Itsna Asyariyah) menolak keras fatwa ini. Saat itulah ia mulai cenderung kepada Syiah Itsna Asyariah lalu terang-terangan membela pemikiran tersebut. Tidak hanya itu, ia juga mulai mengkritik pemikiran Syiah Zaidiyah. Karena hal ini, Badruddin pun diasingkan ke Teheran, ibu kota Iran.
Meskipun Badruddin al-Hutsri sudah hijrah ke Teheran, namun pengaruh pemikiran Syiah Itsna Asyariyahnya tetap hidup di Yaman, khususnya di wilayah Sha’dah. Bagaimana tidak, ia adalah seorang tokoh pendiri studi Zaidiyah yang berjasa mengembangkan madzhab tersebut di Yaman dan tentu saja memiliki kesan yang mendalam bagi pengikutnya di sana. Kepergian Badruddin ke Iran bersamaan dengan pengunduran diri Husein bin Badruddin dari Partai al-Haq. Ia membentuk kelompok baru yang pada awal berdirinya hanya bergerak di bidang keagamaan saja. Namun kemudian, kelompok ini bergabung dengan pemerintah melawan Partai Persatuan Yaman yang merupakan perwakilan Ahlussunnah. Pada tahun 2002, kelompok ini malah berbalik menjadi oposisi pemerintah.
Kelompok Husein al-Houthi pun kian menguat dan berhasil menekan Presiden Ali Abdullah Shaleh agar mengeluarkan kebijakan mengembalikan Badruddin al-Houthi ke tanah airnya Yaman. Karena tidak mengetahui bahaya gerakan Syiah Itsna Asyariyah, Presiden Ali Abdullah Shaleh pun menyetujui kepulangan Badruddin al-Houthi ke tanah Yaman.
Ideologi Syiah Houthi
Sama sepertinya Syiah di Indonesia, Iran, Libanon, Irak, Bahrain, dan mayoritas Syiah yang ada di dunia, pemberontak Houthi pun berideologi Syiah Itsna Asyariyah atau Syiah 12 Imam. Di antara ideologi gerakan ekstrim ini adalah:
  • Ideologi imamah, yaitu bentuk ideologi yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan tidak sah kecuali dari keturunan Ali bin Abi Thalib.
  • Membangkang kepada pemerintah dan menyiapkan diri untuk berhadapan dengan pemerintah.
  • Memprovokasi dan membangkitkan semangat pengikutnya untuk memerangi Ahlussunnah. Karena Ahlussunnah meridhai selain Ali jadi khalifah, yaitu Abu Bakar, Umar, dan Utsman radhiallahu ‘anhum ajma’in.
  • Memuji-muji revolusi Khomeini dan Hizbullah Libanon. Mereka menjadikan keduanya sebagai teladan yang wajib dicontoh perjalannya.
  • Memusuhi tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi secara umum. Karena dari kaca mata ideologi Houthi dan Syiah 12 Imam, tiga khalifah pertama dan para sahabat nabi adalah sumber bencana pada umat ini. Badruddin al-Houthi mengatakan, “Saya pribadi meyakini kekafiran mereka (para sahabat pen.). Mereka (para sahabat) berada di jalan yang berbeda dengan Rasulullah ﷺ.”
  • Mereka mengajarkan mencela dan melaknat istri-istri Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau.
Husein al-Houthi mengatakan, “Seluruh kejelekan yang ada pada umat ini.., setiap kezaliman yang terjadi pada umat ini… dan segala bentuk penderitaan yang dirasakan umat ini… adalah tanggung jawab Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Khususnya Umar, dialah sutradaranya”.
Ia juga berkata tentang baiatnya para sahabat kepada Abu Bakar setelah Rasulullah wafat: “Dampak kejelekan baiat itu masih terasa hingga sekarang”.
Pendiri gerakan separatis ini juga mengatakan, “Permasalahan Abu Bakar dan Umar adalah permasalahan besar. Merekalah dalang semua (keburukan) yang didapat umat ini”.
Karena itu, di Iran mereka melakukan revolusi. Di Bahrain melakukan pemberontakan. Di Libanon mereka menguasai kebijakan negara dengan militer non pemerintah yakni grup Hizbullah. Di Yaman mereka memberontak. Di Indonesia? Mereka pun sama. Mereka adalah Syiah 12 Imam.
  • Secara khusus mereka sangat membenci Umar. Seorang sahabat yang agung yang memadamkan api majusi dengan menaklukkan imperium Persia.
Husein al-Houthi mengatakan, “Muawiyah adalah buah di antara kejelekan Umar. Dan tidak hanya Muawiyah saja racun dari kejelekan Umar bin al-Khattab, Abu Bakar juga merupakan hasil dari kejelekannya. Demikian juga dengan Utsman, ia juga hasil kejelekan Umar”.
Bukti Eratnya Hubungan Houthi dengan Negara Syiah Lainnya
  • Husein bin Badruddin al-Houthi sangat terpengaruh dengan perjalanan hidup Khomaini. Ia berazam sekuat tenaga mewujudkan dan menjadikan Yaman seperti Iran.
  • Salah seorang saudaranya mempelajari metode revolusi dalam sebuah seminar praktik “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” yang diadakan pada tahun 1986 atas sponsor Iran.
  • Setelah ayahnya (Badruddin al-Houthi) kembali dari Teheran, ibu kota Iran, mulai banyak terjadi perselisihan dengan ulama-ulama madzhab Syiah Zaidiyah.
  • Kunjungan pemberontak Houthi ke Iran dan kunjungan balik Iran ke Yaman dalam pertemuan-pertemuan rahasia terkait “Ittihadu asy-Syab al-Mukmin” sebagai persiapan revolusi di Yaman.
  • Pembelaan televisi-televisi Syiah semisal al-Alam di Iran, al-Manar milik Hizbullah Libanon, dll. terhadap pemberontak Houthi saat pemberontak ini berperang dengan pemerintah Yaman.
  • Militer Yaman menemukan senjata-senjata Iran pada pemberontak Houthi.
  • Ditemukan dokumen di rumah sakit Iran di ibu kota Shan’a. Dokumen itu menunjukkan keterlibatan Iran dalam operasi spionase (mata-mata), dukungan keuangan, dan militer untuk Houthi. Rumah sakit Iran itu pun akhirnya ditutup oleh pemerintah Yaman.
  • Adanya lambang Hizbullah Libanon di markas-markas Houthi.
  • Sejak keberhasilan revolusi berdarah di Iran, Khomaini memang bertekad mengadakan revolusi serupa di negara-negara Arab.
  • Terdapat pejuang-pejuang Syiah Irak di baraisan pemberontak Houthi.
  • Orang-orang Syiah baik di Iran maupun yang lain, marah besar atas serangan terhadap pemberontak Houthi.
Bahaya dan Ancaman Gerakan Houthi
  • Pemikiran yang paling berbahaya dari kelompok pemberontak ini adalah keyakinan bahwa Imam Mahdi (versi Syiah) akan datang ke dunia. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan tanah tempat kedatangannya untuk kemudian “membebaskan” dua tanah haram, Mekah dan Madinah. Kerajaan Arab Saudi harus segera dihancurkan. Kita bisa menyaksikan saat ini, Syiah berusaha mengepung kerajaan ini dengan men-Syiah-kan Irak, Libanon, dan Suriah untuk memagari Arab Saudi di bagian utara. Yaman di bagian selatan. Usaha untuk menguasai Mesir di sebelah barat. Dan Iran sendiri di sebelah Timur.
  • Dalam buku Ashru azh-Zhahir yang ditulis oleh seorang Syiah, Ali Kurani al-Amili, ditegaskan bahwa banyak terdapat hadits dari ahlul bait tentang revolusi Islam di Yaman.Yaman adalah tanah yang disiapkan untuk kedatangan Mahdi. Di dalam kitab tersebut disebutkan bahwa pimpinan revolusi bernama “al-Yamani” seorang Yaman yang bernama Hasan atau Husein dari keturunan Zaid bin Ali. Al-Yamani ini keluar dari daerah yang disebut Kur’ah. Sebuah desa di daerah Khaulan dekat Sha’dah.
Dialog Buntu, Operasi Militer Ditempuh
Bukan rahasia lagi, bahwa grup-grup ekstrim Syiah di dunia Arab memiliki hubungan erat dengan Iran. Negara para mullah ini seolah-olah menjadi ayah bagi para ekstrimis Syiah di Timur Tengah. Mereka mensponsorinya dan berdiri satu barisan bersama mereka. Iran dan agen-agennya di Timur Tengah sudah tidak bisa dipercaya lagi. Mereka selalu memainkan peran sebagai penipu dimanapun mereka berada. Politik damai sudah sangat jauh dari kata manjur mengatasi kezaliman mereka. Operasi militer pun harus ditempuh.
Diam-diam, pemberontak Houthi dibantu oleh mantan presiden Yaman yang digulingkan, Ali Abdullah Shaleh, untuk merebut ibu kota Shan’a dengan kekerasan dan teror. Padahal Ali Abdullah Shaleh ini punya hutang nyawa dengan Arab Saudi. Ia diselamtkan Raja Abdullah para pemberontakan yang hendak membunuhnya saat Arab Spring beberapa tahun silam.
Setelah berhasil merebut ibu kota Shan’a, grup pemberontak yang disupport Iran ini menutup setiap kemungkinan upaya rekonsiliasi yang diupayakan oleh negara GCC (Gulf Cooperation Council: Saudi Arabia, Kuwait, the United Arab Emirates, Qatar, Bahrain, dan Oman). Presiden Yaman, Abdrabbo Mansour Hadi, akhirnya meminta negara-negara Teluk, Liga Arab, dan komunitas internasional untuk campur tangan menghadapi pemberontakan berdarah yang dilakukan oleh separatis Houthi.
Arab Saudi dan negara anggota GCC (kecuali Oman), Yordania, Mesir, Sudan, Maroko dan Pakistan bahkan termasuk Turki menjawab panggilan tersebut dengan operasi militer yang dinamai dengan Decisive Storm.
Iran dan media-medianya Syiahnya –termasuk media-media Syiah di Indonesia- mengecam keras operasi militer ini. Tidak heran rezim Iran membela kelompok teroris ini, karena sebelumnya pun mereka telah menjadi sumber utama pergolakan dan ketidak-stabilan di berbagai wilayah. Terutama di Suriah, Libanon, Irak, dan Yaman. Karena itu jangan heran mereka menyebut aksi pembebasan kemanusiaan ini dengan penjajahan dan agresi militer.
Jika Yaman menjadi sekutu Iran, tentu keamanan Mekah dan Madinah kian terancam. Mereka bisa meluncurkan rudal-rudal balistik dari pangkalan militer di Yaman, “membebaskan” dua tanah suci dan menghancurkan Arab Saudi.
Awal Peperangan dengan Separatis Houthi
Pada tahun 2004, terjadilah demonstrasi besar-besaran. Orang-orang Houthi dipimpin oleh Husein al-Houthi turun ke jalan menentang sikap pemerintah yang mendukung ekspansi Amerika ke Irak. Pemerintah Yaman merespon demonstrasi tersebut dengan sikap represif. Dalam demonstrasi tersebut orang-orang Houthi menyuarakan Mahdi di tengah-tengah mereka bahkan kenabian pun ada pada mereka. Sejak saat itulah pemerintah Yaman menanggapi gerakan Houthi dan Syiah secara serius.
Orang-orang Syiah berdemonstrasi di jalan-jalan Yaman sambil membawa slogan dan foto-foto tokoh Syiah
Orang-orang Syiah berdemonstrasi di jalan-jalan Yaman sambil membawa slogan dan foto-foto tokoh Syiah
Pemerintah Yaman mengumumkan perang terbuka dengan gerakan Syiah dan Houthi. Penangkapan anggota Houthi dan penyitaan senjata-senjata mereka pun digelar besar-besaran. Tidak hanya itu, pemerintah menginstruksikan untuk membunuh Pemimpin Houthi, Husein Badruddin al-Houthi.
Setelah Husein al-Houthi terbunuh, kepemimpinan gerakan ini beralih ke tangan ayahnya, Badruddin al-Houthi. Badruddin cukup berhasil melakukan strategi baru menghadapi pemerintah Yaman. Mereka diam-diam mempersenjatai diri, untuk kemudian mengadakan perlawanan terhadap pemerintah.
Pada tahun 2008, Qatar memfasilitasi perjanjian damai antara pemerintah Yaman dengan Houthi. Dua orang saudara kandung Husein al-Houthi yakni Yahya al-Houthi dan Abdul Karim al-Houthi datang ke Qatar untuk menyerahkan persenjataan mereka kepada pemerintah Yaman. Namun perjanjian damai ini tidak berlangsung lama dan perang baru pun kembali terjadi. Bahkan Houthi tampil lebih kuat dengan mengupayakan kekuasaan penuh atas wilayah Sha’dah. Mereka merapat ke pinggir Laut Merah untuk memudahkan pasokan logistik perang dari luar Yaman.
Dakwah Syiah Houthi kian terang-terangan dan perlawan mereka pun kian menantang. Saat ini, karena kekuatan mereka semakin bertambah, mereka tidak lagi menuntut pemisahan wilayah Sunni dan Syiah, mereka malah bertujuan menguasai wilayah Yaman secara keseluruhan.
Sebab Kekuatan Houthi
Ada beberapa hal yang menjadikan sekelompok gerilyawan Houthi begitu kuat hingga bisa merepotkan pemerintah Yaman.
Pertama: bantuan Iran. Iran adalah Negara Syiah Itsna ‘Asyariyah yang begitu aktif menyebarkan ideologinya ke seluruh negeri-negeri muslim. Bahkan keinginan kuat itu sudah muncul sejak mula, ketika revolusi Syiah Iran berhasil menumbangkan rezim Syah Pahlevi, Khomeini sang pemimpin revolusi langsung menyatakan melalui siaran radio bahwa revolusi Syiah mereka akan terus menyebar hingga menuju Mekah dan Madinah.
Penulis mendapat kabar dari beberapa relawan Yaman saat terjadi perang di Damaj, bahwa banyak pejuang-pejuang Syiah di sana bertutur dengan Bahasa Parsi dan berpaspor Iran. Artinya, Iran tidak hanya menyumbang logistik perang saja, tapi mereka juga menerjunkan tentara garda republik mereka untuk membela kepentingan Syiah Houthi dan membela kepentingan Syiah Itsna Asyariyah di dunia Arab.
Kedua, berhasilnya Houthi memenangkan perang opini melawan pemerintah. Sebagaimana kita ketahui, Yaman adalah salah satu negara termiskin dan tertinggal di Jazirah Arab. Banyak masyarakatnya hidup di bawah garis kemiskinan. Kekeringan adalah pemandangan yang merata di daerah yang dulunya terdapat negeri Saba’, negeri yang subur dan makmur itu. Pembangunannya pun tak kalah menyedihkan, statis dan tidak bergerak. Bahkan ada seorang perantau yang mengisahkan bahwa tidak ada perbedaan antara bandara Shan’a yang ia tinggalkan belasan tahun yang lalu dengan bandara Shan’a yang ada sekarang. Tidak ada infrastruktur baru dan pembangunan yang membuatnya menjadi berubah.
Houthi berhasil mengankat isu-isu kondisi ekonomi, sosial, dan pembangunan Yaman yang sangat buruk sebagai bukti kegagalan pemerintah dalam mebangun negeri nenek moyang bangsa Arab itu. Akhirnya, rakyat pun simpati dengan gerakan separatis ini. Meskipun mereka tidak sepakat secara ideologi.
Ketiga, tribalisme atau budaya kesukuan. Yaman merupakan negara yang masyarakatnya sangat kental dengan kekabilahan. Pengaruh suku dan kabilah masih dijunjung tinggi oleh masyarakat di sana. Syiah Houthi mendapat cukup banyak dukungan dari para tetua kabilah yang beroposisi dengan pemerintah.
Keempat, faktor geografi Yaman. Kontur pegunungan di Yaman cukup menyulitkan bagi militer pemerintah untuk mengepung separatis Houthi. Mereka menjadikan gunung-gunung dan perbukitan sebagai benteng dan menjadikan gua-gua sebagai tempat persembunyian. Ditambah lagi teknologi militer yang masih sederhana menambah kebutaan tentara pemerintah untuk memantau persembunyian-persembunyian mereka.
Kelima, instabilitas politik Yaman. Maraknya demonstrasi yang menuntut dis-integrasi Yaman untuk kembali menjadi Yaman Selatan dan Yaman Utara kembali muncul. Bahkan mantan presiden Yaman Selatan, Ali Salim al-Beidh, keluar dari persembunyiannya di Jerman turut memanaskan kondisi dengan mengampanyekan tuntutan serupa. Tentu saja konsentrasi intelejen pemerintah terpecah, antara menghadapi oposisi dan separatis Houthi.
Cita-cita Negara Syiah Raya
Sejarah mencatat bahwa Syiah pernah begitu digdaya dengan Kerajaan Fatimiyah dan Kerajaan Shafawiyah. Khususnya Fatimiyah, mereka pernah menguasai seluruh Jazirah Arab, termasuk Mekah dan Madinah. Dan saat ini, Republik Syiah Iran ingin bernostalgia dengan kejayaan masa lalu tersebut. Hal itu mereka wujudkan dengan mengulirkan revolusi Syiah Iran ke berbagai negeri Islam di dunia, khususnya di Arab.
Baru-baru ini, anggota parlemen Iran yang bernama Ali Ridha Zakani mengatakan “Saat ini, tiga ibu kota negara Arab sudah berada di genggaman Iran. Mereka semua mengikuti jejak langkah revolusi Iran”. Ujar anggota parlemen wakil dari Teheran itu, sebagaimana dikutip dari laman website surat kabar almesryoon. Tiga ibu kota yang dimaksud oleh Zakani adalah (1) Beirut, ibu kota Libanon, (2) Damaskus, ibu kota Syria, dan (3) Baghdad, ibu kota Irak. Kemudian Zakani melanjutkan pernyataannya bahwa apa yang sedang terjadi di Shan’a, Yaman, juga merupakan perpanjangan dari revolusi Iran. Di hadapan anggota parlemen, ia menyebut bahwa saat ini Iran sedang menghadapi al-Jihad al-Akbar. Istilah itu ia sebut untuk menamakan proses penyebaran revolusi Iran di negeri Arab atau bahkan di dunia Islam.
Islam Perangi Syi'ah, Yahudi Tertawa? Kenapa Saudi Arabia Tidak Serang Yahudi untuk Bebaskan Al-Aqsha, kok malah Serang Syi'ah?
Jika ada yang bertanya:
Kenapa Saudi beserta koalisinya justru menyerang Yaman dan tidak mengarahkan pesawat-pesawatnya untuk membebaskan Palestina?
Maka jawabannya adalah KISAH SHALAHUDDIN AL-AYYUBI berikut ini,
Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memutuskan untuk menghancurkan kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-'Ubaidiyyah di Mesir, ada bertanya:
"Mengapa Anda memerangi kaum Syiah Rafidhah dan Daulah al-'Ubaidiyyah di Mesir, tapi membiarkan kaum Romawi Salibis (Kristen) menguasai Baitul Maqdis dan wilayah Palestina?"
Beliau menjawab: "Aku tidak akan memerangi kaum Salibis lalu membiarkan 'punggung'ku tersingkap di hadapan kaum Syiah!"
Maka beliau pun membasmi Daulah al-'Ubaidiyah di Mesir, Maghrib dan Syam, setelah itu, beliau pun memimpin penaklukan kembali Baitul Maqdis dan membersihkan Masjid al-Aqsha dari kenistaan kaum Salibis
{Lihat: al-Bidayah wa al-Nihayah oleh Ibnu Katsir, berdasarkan status Syekh Abdullah al-Ramadhany}
Kisah Shalahuddin Al-Ayubi membasmi Syi'ah -kisahmuslim.com/shalahuddin-al-ayyubi/
Dendam Syi'ah kepada Shalahuddin Al-Ayubi -kisahmuslim.com/dendam-syiah-kepada-shalahuddin-al-ayyubi/
# Islam Perangi Syi'ah, Yahudi Tertawa? #
Tidak sedikit saudara-saudara kita yang awam menganggap pertempuran Arab Saudi dan koalisi melawan Syiah Houthi yang didukung Iran adalah pertempuran yang akan membuat senang Israel karena sesama umat Islam berperang.
Sebentarr... tahan sejenak.. keberadaan Pemberontak Syiah Houthi di perbatasan Arab Saudi justru akan mengancam tanah haram, Mekah dan Madinah
Dan memerangi mereka malah membuat musuh merasa kehilangan alat untuk mengacau negeri muslim
Cerita serupa pernah terjadi dalam peperangan Kerajaan Shafawi yang berpaham Syiah dengan Kerajaan Turki Utsmani yang berpaham Ahlussunnah
Musuh-musuh Islam malah terancam dengan kekalahan Syiah Shafawi karena mereka punya kepentingan yang sama terhadap Islam
Simak trilogi kisahnya di bawah ini:
Trilogi Kisah Iran dan Daulah Shafawi

Wallahu A'lam Bishawab


Semoga bermanfaat....

Diolah Dari berbagai sumber

Friday, March 27, 2015

Wacana Islam

BERTAMU


Dalam hidup bersosial kita tidak lepas dari tetangga,teman dan persaudaraan.Pada tulisan sekarang kita akan menshare sedikit ilmu yang kita punya tentang kehidupan bersosial khususnya bertamu (menjadi tamu dan menjadi tuan rumah) dalam sisi keislaman.

Kita akan buka dengan satu hadist "barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah menghormati tamunya.kewajiban menjamu tamu adalah satu hari satu malam saja.Masa bertamu adalah 3 hari Dan sesudah itu termasuk sedekah.Tidak halal bagi tamu tinggal lebih lama dan menyulitkan tuan rumah."( HR.Al-Baihaqi)

Tamu adalah anugerah karena tamu membawa berkah tersendiri, sehingga dalam islam ditegaskan melalui Al-Quran maupun Al-Hadist secara panjang lebar, entah tamu tersebut bertujuan baik maupun jelek, maka menurut hemat kami hormatilah semua tamu yang datang kerumahmu, karena itu, kita harus selalu Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu tersebut untuk memberikan makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya yang diterangkan dalam Al-Quran: “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-pen) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27), 
Dari abu Hurairah ra katanya: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Lalu dia berkata. “aku dalam kesulitan (susah hidup dan lapar).” Maka beliau bawa orang itu kerumah istri beliau satu persatu, menanyakan kalau-kalau mereka ada sedia makanan. Para istri beliau menjawab “demi Allah yang mengutus Anda dengan yang haq, aku tidak sedia apa-apa selain air.”begitulah jawaban mereka masing-masing. Lalu bersabda beliau kepada para sahabat. “siapa besedia menerima tamu malam ini niscaya dia diberi rahmat oleh Allah ta’ala. Maka berdirilah seorang laki-laki Anshor seraya berkata: Aku ya Rasulullah!” maka dibawalah orang itu kerumahnya.diabertanya kepada istrinya, “adakah engkau sedia makanan? “jawab istrinya, tidak ada kecuali makanan anak-anak.” Katanya “bujuklah mereka dengan apa saja. Bila tamu kita telah masuk. Tunjukkan kepadanya bahwa kita makan bersamanya, bila dia telah mulai makan, berdirilah kedekat lampu lalu padamkan. Maka duduklah mereka, dan sang tamupun makanlah. Setelah subuh. Sahabat tersebut bertemu nabi saw. Lalu kata beliau. “Allah kagum dengan cara kamu berdua melayani tamu kalian tadi malam. HR. Bukhori 1966.
maka posisi tamu disini sangat penting untuk diperhatikan, di hormati dan di layani sebaik-baik mungkin.

Pemilihan waktu dalam bertamu juga sangatlah penting dalam tata cara (adab) berkunjung kerumah orang lain.Sebisa mungkin sudah membuat janji dengan tuan rumah,jangan terlalu malam atau terlalu pagi jika tidak terlalu urgent “Rasulullah tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam. Beliau biasanya datangkepada mereka pada waktu pagi atau sore.” (HR. al-Bukhari no. 1706 dan Muslim no. 1928) dan diusahakan jangan bertepatan dengan waktu shalat.

Jadilah tamu yang baik dengan meminta ijin kepada tuan rumah jangan jadi tamu slonong boy yang tiba-tiba masuk tanpa ijin meski itu rumah teman dekat,tetangga dekat atau siapapun soalnya sebagai tamu kita tidak tau kegiatan apa yang sedang tuan rumah kerjakan didalam rumah Allah berfirman
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu selalu ingat.” (An Nur: 27)

“Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (An-Nur 28)
Dan  
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Meminta izin itu dijadikan suatu kewajiban karena untuk menjaga pandangan mata.” (HR. al-Bukhari no.5887 dan Muslim no. 2156 dari sahabat Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu)

Bagaimana cara meminta ijin dari tuan rumah ?
Bagi umat Islam ada beberapa cara untuk minta ijin pada tuan rumah :

Mengucapkan salam.
Hal ini dicontohkan para malaiakat saat bertamu ke rumah nabi Ibrahim as,“Ketika mereka (para malaikat) masuk ke tempatnya (Ibrahim) lalu mengucapkan salam.” (Adz-Dzariyat: 25).
hal ini juga pernah diriwayatkan oleh sahabat yang akan bertamu ke rumah Rasullulah "Pernah salah seorang sahabat dari Bani ‘Amir meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu sedang berada di rumahnya. Orang tersebut mengatakan, “Bolehkah saya masuk?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan pembantunya dengan sabdanya, “Keluarlah, ajari orang itu tata cara meminta izin, katakan kepadanya, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut didengar oleh orang tadi, maka dia mengatakan, “Assalamu ‘alaikum, bolehkah saya masuk?” Akhirnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempersilakannya untuk masuk ke rumah beliau. (HR. Abu Dawud no. 5177)".
Jika yang menjadi tuan rumah adalah orang non Muslim mama cukup dengan mengucapkan " selamat pagi(tergantung waktu) apa saya boleh masuk ?" Atau dengan sapaan lain yang sopan Dan tidak menyakiti.
kenapa tidak salam ? karena Rasullulah bersabda “Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashrani dalam ucapan salam.”
 HR. Tirmidzi no. 1602 dan Ahmad (2/266). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

meminta ijin sebanyak 3x
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Meminta izin itu tiga kali, jika diizinkan maka masuklah, jika tidak, maka pulanglah.” (HR. al-Bukhari no. 5891 dan Muslim no. 2153 dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu)

Dilarang mengintip kedalam rumah. 
Kebiasaan yang sering terjadi Dan sering dilakukan di masyarakat sekarang ini,entah karena urgent atau karena kebiasaan atau karena kedekatan hubungan ( tetangga atau teman ) padahal Rasullulah bersabda “Barang siapa mengintip ke dalam rumah suatu kaum tanpa izin mereka, maka sungguh telah halal bagi mereka untuk mencungkil matanya.” (HR. Muslim no. 2158 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Perkenalkan diri anda. 
Hal sederhana ini sering ditinggalkan dan baru disebutkan nama setelah tuan rumah ada.kenapa harus memperkenalkan diri dulu ? ini untuk menghindari jika tamu yang datang bukan muhrim atau orang asking maka tuan rumah bisa bersiap 
 Hal ini sebagaimana kisah para malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya):
“Ibrahim bertanya, “Apakah urusanmu wahai para utusan?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa.” (Adz-Dzariyat: 32)

Memintakan ijin untuk orang yang tidak diundang. 
Jika kita bertamu dalam rangka memenuhi undangan tuan rumah dan ada orang lain ikut atau kita ajak wajib hukumnya kita mintakan ijin untuk orang tersebut,hal ini biasanya berkenaan dengan tempat penyambutan dan konsumsi yang disediakan oleh tuan rumah. “Di kalangan kaum Anshar ada seseorang yang dikenal dengan panggilan Abu Syu’aib. Dia mempunyai seorang budak penjual daging. Abu Syu’aib berkata kepadanya, “Buatlah makanan untukku, aku akan mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama empat orang lainnya. Maka dia pun mengundang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama empat orang lainnya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang bersama 4 orang lainnya, ternyata ada seorang lagi yang mengikuti mereka, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya anda mengundang kami berlima, dan orang ini telah mengikuti kami, jikalau anda berkenan anda dapat mengizinkannya dan jika tidak anda dapat menolaknya.” Maka Abu Syu’aib berkata, “Ya, saya mengizinkannya.” (HR. al-Bukhari no. 5118 dan Muslim no. 2036)
     
Tidak memberatkan tuan rumah dan segera pulang setelah urusannyà dirasa sudah selesai.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:  “Jamuan tamu itu tiga hari dan perjamuannya (yang wajib) satu hari satu malam. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tinggal di tempat saudaranya hingga menyebabkan saudaranya itu terjatuh dalam perbuatan dosa. Para sahabat bertanya, “Bagaimana dia bisa menyebabkan saudaranya terjatuh dalam perbuatan dosa?” Beliau menjawab, “Dia tinggal di tempat saudaranya, padahal saudaranya tersebut tidak memiliki sesuatu yang bisa disuguhkan kepadanya.” (HR. Muslim no. 48 dan Abu Dawud no. 3748 dari sahabat Abu Syuraih al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhu)
Disebutkan oleh para ulama bahwa perjamuan yang wajib dilakukan tuan rumah kepada tamu hanya satu hari satu malam (24 jam). Jamuan tiga hari berikutnya hukumnya mustahab (sunnah) dan lebih utama. Adapun jika lebih dari itu maka sebagai sedekah. Maka dari itu, bagi tamu yang menginap kalau sudah lewat dari tiga hari hendaknya meminta izin kepada tuan rumah. Kalau tuan rumah mengizinkan atau menahan dirinya maka tidak mengapa bagi si tamu tetap tinggal, dan jika sebaliknya maka wajib bagi si tamu untuk pergi. Karena keberadaan si tamu yang lebih dari tiga hari itu bisa mengakibatkan tuan rumah terjatuh dalam perbuatan ghibah, atau berniat untuk menyakitinya atau berburuk sangka.

Biasakanlah mendoakan tuan rumah. 
Hendaknya tamu mendoakan tuan rumah atas tempat dan hidangan yang telah diberikan. 
Di antara doa yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِيْ مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَ ارْحَمْهُمْ

“Ya Allah berikanlah barakah untuk mereka pada apa yang telah Engkau berikan rizki kepada mereka, ampunilah mereka, dan rahmatilah mereka.” (HR. Muslim no. 2042 dari sahabat Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu)

Bagaimana jika kita seorang wisatawan atau turis yang satang ke negara orang atau sebaliknya kita yang dikunjungi turis atau wisatawan ?

Jika kita jadi turis atau wisatawan berlakulah baik di tempat orang ada pepatah mengatakan "dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung",jangan sewenang-wenang dan janganlah pula merugikan negara atau tempat yang kita kunjungi.contoh nya kita dinegara orang atau ke lain pulau di negara ini kemudian kita believe makanan yang ada bungkusnya nah sebisa mungkin buang tuh bungkus ketempat sampah jangan sembarangan,ada 1 lagi kebiasaan orang yang sangat disayangkan tapi tetep dilakukan yaitu corat- coret. Biasanya kalau kita datang ketempat wisata atau tempat indah yang belum pernah kita kunjungi biasanya kita tidak lupa mencatatkan nama,waktu dan sama siapa kita kesana di tembok,batu,tiang,kayu dan lain- lain padahal sebenernya itu tidak berguna sama sekali padahal sudah ada 
kamera Dan handycam tapi merasa kurang exis kalau tidak mencoret,Astaugfirullah padahal Allah itu indah Dan menyukai keindahan.

Bagaimana kalau kita jadi tuan rumah nya turis ?
Nah karena kita bicara dalam prospektif Islam maka akan dijelaskan sedikit tentang itu. Faktanya negara Indonesia mayoritas muslim meskipun negara ini tidak menganut hukum Islam,banyak pesantren,sering ada pengajian bahkan banyak sekali acara-acara Islamic di media tapi kenapa masih ada kasus yang berkaitan dengan agama Dan melibatkan turis atau wisatawan terutama yang Dari manca negara ? Padahal para turis itu datang legal atau resmi ke Indonesia dengan begitu turis itu bisa disebut dengan ahlu dzimmah.Disebut ahlu dzimmah karena para wisatawan itu berada dalam jaminan Allah,dalam jaminan Rasul-Nya dan dalam jaminan kaum muslimin.

Ahlu dzimmah adalah semua orang non muslim yang berada di dalam negara kaum muslim secara baik- baik,tidak ilegal,dengan membayar jizyah dan mentaati peraturan yang ada dalam negara itu.Hak mereka sama dengan hak kaum muslimin.Darah dan kehormatan mereka sama dengan darah dan kehormatan kaum muslimin.Mereka harus dijaga dan dilindungi dan tidak boleh disakiti sedikitpun. Rasullulah bersabda "Barang siapa menyakiti orang zhimmi (ahlu dzimmah) maka aku akan menjadi seterunya.Dan siapa yang aku jadi seterunya dia pasti kalah dihari kiamat." (Diriwayatkan oleh Al-Khathib dengan sanad baik).Baginda Rasul juga mengingatkan "Barang siapa menyakiti orang dzimmi,dia telah menyakiti diriku dan barang siapa menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah". (Diriwayatkan oleh Imam Thabrani dengan sanad baik).
Dengan begitu tidak dibenarkan adanya bom bali 1 dan 2 yang beralasan jihad soalnya indonesia khususnya bali ( tempat kejadian) bukan zona tempur,dan tidak dibenarkan sweeping atas nama agama terhadap turis-turis yang datang dengan legal ke Indonesia.jika kita berani membantah apa yang telah baginda Rasul perintahkan maka bersiaplah untuk berseteru dengan Rasullulah dan Allah penguasa jagad,Pencipta segala mahluk di hari kiamat nanti.



Wallahu a’lam bish shawab dan semoga bermanfaat.

Amin.

Ditulis dari berbagai sumber.